3 Fakta Tak Terduga Tentang Jetlag, Ternyata Tak Dapat Diobati Layaknya Penyakit

Jet lag merupakan satu hal yang tak asing lagi bagi traveler yang sering melakukan penerbangan jarak jauh.

3 Fakta Tak Terduga Tentang Jetlag, Ternyata Tak Dapat Diobati Layaknya Penyakit
YouTube
Ilustrasi Jet lag 

Laporan Wartawan TribunTravel.com, Rizki A Tiara

TRIBUNTRAVEL.COM - Jet lag merupakan satu hal yang tak asing lagi bagi traveler yang sering melakukan penerbangan jarak jauh.

Bisa dibilang, jet lag adalah satu di antara bentuk kelelahan di era modern seperti sekarang ini.

Lalu sebenarnya, apa sih jet lag itu?

Dikutip TribunTravel.com dari laman Telegraph, istilah 'jet lag' pertama kali digunakan pada 1960an.

Jet lag adalah ekspresi pembentukan kata baru (portmanteau) yang menggabungkan 'jet set' dan 'time lag.'

Setelah penemuan dan penggunaan pesawat jet selama Perang Dunia II, perjalanan udara komersial dengan cepat berkembang.

Banyak orang yang semakin mendapat kemudahan dari penerbangan modern.

(medicalnewstoday.com)

Namun, secara berangsur-angsur diperhatikan, kelas masyarakat yang menikmati keistimewaan penerbangan ini menderita penyakit yang sebelumnya tidak terdiagnosis.

Yakni, jenis kelelahan tertentu yang ditimbulkan langsung dari laju perjalanan jet.

Jet lag memiliki fakta dan definisinya sendiri, sebagaimana dirangkum TribunTravel.com dari laman Telegraph berikut.

1. Jet lag berbeda dari kelelahan biasa.

Perlu digarisbawahi, jet lag tidak sama dengan kelelahan biasa.

Sementara kabin yang penuh sesak, kursi yang tidak nyaman, dan anak-anak yang menangis rewel memang dapat menjadi faktor penyebab kelelahan perjalanan udara.

Namun, jet lag bukanlah efek dari keadaan-keadaan tersebut.

Sebaliknya, jet lag diakibatkan oleh jam biologis manusia yang telah terbiasa di satu tempat, tetapi menjadi kacau saat berada di tempat baru karena cepatnya perjalanan udara.

Sehingga jet lag dapat terjadi setiap kali satu zona waktu dilewati.

Namun jet lag bakal sangat terasa ketika ada beberapa zona waktu yang terlibat.

Sederhananya, inilah mengapa seseorang merasa begitu tidak nyaman ketika tiba di Bandara Heathrow di London pada jam 8 pagi di pagi hari dari Bandara JFK, New York.

Ini membuatnya masih merasa seperti jam 2 pagi di New York.

Tubuh telah melakukan perjalanan lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk mengatur ulang jam alaminya yang dikenal dengan ritme sirkadian.

6 Destinasi Paling Eksotis yang Layak Dikunjungi Pada 2019, Kawasan Asia Tengara Jadi Primadona

2. Jet lag tidak dapat diobati.

Bentrokan tak terelakkan antara waktu lokal dan jam biologis tubuh berarti tidak ada obat untuk menyembuhkan jet lag.

Namun, tentu saja masih ada beberapa perawatan untuk mengatasinya.

Selain minum kopi, tidur siang, dan teknik lain yang berlaku untuk kelelahan biasa, ada trik khusus untuk jet lag.

Disarankan, seseorang melakukan serangkaian puasa dan makan sebelum bepergian untuk membantu mengatur ulang rutinitas jam biologis tubuhnya.

Lalu, ada kacamata terapi cahaya yang populer untuk membantu mengatur ulang ritme sirkadian secara cepat, meskipun harganya cukup mahal.

Di luar cara-cara 'meretas' jam biologis seseorang, cara yang paling dapat diandalkan untuk mengatasi jet lag adalah membiarkan tubuh meluangkan waktu untuk beradaptasi.

Yakni, dengan membiasakan diri dengan paparan sinar matahari dan siklus selestial di tempat baru.

Waktunya sekitar satu hari untuk setiap kali zona waktu yang dilewati.

Intinya, hargailah tubuh dan bersabarlah.

Ritme sirkadian dapat ditemukan di semua organisme hidup, mulai dari paus biru hingga bakteri sel tunggal, dan telah berevolusi karena berbagai alasan penting.

Fotografer Asal Amerika Serikat Ini Tunjukkan Ketimpangan Sosial yang Terjadi di Dunia Lewat Drone

3. Jet lag memiliki dampak ekonomi.

Tidak dipungkiri, sebagian besar penumpang pesawat terbang tidak sabar menunggu jet lag reda.

Dan pada gilirannya telah menghasilkan budaya jet lag.

Ini pulalah yang dimanfaatkan oleh para kapitalis.

Saat di terminal bandara internasional mana pun, penumpang dapat menemukan berbagai kedai kopi untuk meningkatkan energi.

Ada pula toko-toko yang menjual bantal leher, layanan pijat, serta maskapai yang menyediakan lounge yang menawarkan kamar mandi, hot bar, dan pilihan tidur untuk penumpang yang sedang transit.

Sementara, untuk penumpang kelas satu tersedia fasilitas mewah dan nyaman seperti itu di atas pesawat terbang.

Jet lag memiliki dampak ekonomi, intinya kenyamanan tidur pun bisa jadi komoditas yang diperjualbelikan.

4 Kuliner Olahan Kambing Paling Legendari di Jakarta, Coba Warung Makan Pak Maman di Petamburan

Ikuti kami di
Penulis: Rizkianingtyas Tiarasari
Editor: Ambar Purwaningrum
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved