Breaking News:

Tak Hanya Ing Ngarso Sung Tulodo, Ini Isi 10 Fatwa Ki Hadjar Dewantara yang Hampir Terlupakan

Masih Ingatkah kamu dengan Ki Hadjar Dewantara? Mungkin kamu hanya mengingatnya sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

LP3M UST
Ki Hadjar Dewantara 

Laporan Wartawan TribunTravel.com, Ambar Purwaningrum

TRIBUNTRAVEL.COM - Masih Ingatkah kamu dengan Ki Hadjar Dewantara?

Mungkin kamu hanya mengingatnya sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Lalu ingatkah kamu dengan slogannya?

Bagi kamu yang lahir di era Orde Baru pasti ingat dengan jelas.

Sebab pada masa itu , jargon dari tokoh bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat selalu masuk dalam ulangan sekolah.

Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara (himaindonesia.com)

Ing ngarso sang tulodo, di depan memberi contoh

Ing madyo mangun karso, di tengah membangun karya

Tut wuri handayani, di belakang memberi dorongan.

Begitulah isi dari jargon terkenal milik pelopor Perguruan Taman Siswa ini.

Selain jargon itu, ternyata Ki Hadjar Dewantara juga memiliki nasehat lain.

Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara (islampos.com)

Nasehat tersebut diberi nama Fatwa Sendi Hidup Merdeka.

Total ada 10 nasehat di dalam fatwa itu.

Sayang tak banyak dari kita yang mengetahui isinya.

Dikutip TribunTravel.com dari berbagai sumber, berikut 10 nasehat Ki Hadjar Dewantara tentang fatwa hidup merdeka.

Patung Ki Hadjar Dewantara
Patung Ki Hadjar Dewantara (nu.or.id)

1. Lawan Sastra Ngesti Mulya, dengan ilmu menuju kemuliaan

Fatwa ini memiliki arti kemuliaan nusa, bangsa, dan rakyat yang ingin dia bangun lewat Tamansiswa miliknya.

Fatwa inilah yang menjadi lahirnya Tamansiwa sebagai masyarakat tanpa kelas.

2. Suci Tata Ngesti Tunggal, dengan suci batinnya, tertib lahirnya menuju kesempurnaan

Fatwa ini menjadi lahirnya persatuan Tamansiswa.

Dimana berisi tentang sebuah janji yang harus diamalkan oleh siswa di Tamansiswa dan bangsa Indonesia.

3. Hak menuntut salam dan bahagia

Fatwa ini berdasarkan asas Tamansiswa.

Ajaran bahwa Tuhan semua manusia itu pada dasarnya sama, yakni sama hak dan kewajibannya.

Keduanya tak boleh dipisahkan.

4. Salam bahagia diri tidak boleh menyalahi damainya masyarakat

Isi fatwa ini sebagai bentuk peringatan.

Sebab kebebasan manusia itu dibatasi oleh kepentingan keselamatan masyarakat.

Batas kemerdekaan kita adalah hak-hak orang lain yang sama-sama mengejar kebahagiaan hidup.

Segala kepentingan bersama harus didahulukan ketimbang kepentingan diri sendiri.

Janganlah mengucapkan 'hak diri' kalau tidak bersama-sama dengan ucapan 'tertib damainya masyarakat', agar jangan sampai hak diri itu merusak hak diri orang lain sesama kita, yang berarti merusak keselamatan hidup bersama, yang juga merusak kita masing-masing.

5. Kodrat alam penunjuk untuk hidup bersama

Fatwa ini sebagai bentuk pengakuan jika kodrat alam milik Tuhan Yang Maha Kuasa itu diatas kekuasaan manusia.

Artinya jangan pernah hidup bertentangan dengan kodrat alam.

Kodrat alam seharusnya dijadikan sebagai pedoman hidup manusia.

6. Alam hidup manusia adalah alam hidup berbulatan

Artinya manusia itu ada dalam lingkungan berbagai alam khusus yang saling berhubungan dan berpengaruh.

Alam khusus yang terdiri dari alam diri, alam kebangsaan, alam kemanusiaan.

Rasa diri, rasa kebangsaan, dan rasa kemanusiaan ketiga-tiganya hidup dalan setiap sanubari kita masing-masing manusia.

7. Dengan bebas dari segala ikatan dan suci hati hambalah kepada sang anak

Artinya dalam mendidik, penghambaan kepada sang anak tidak lain sama dengan penghambaan kita sendiri.

Pengorbanan memang ditujukan kepada anak, tetapi yang memerintahkan dan memberi titah untuk berhamba dan berkorban itu bukan si anak, melainkan diri kita masing-masing.

Di samping itu kita menghambakan diri kepada bangsa, negara, rakyat, dan agama, atau terhadap lainnya.

Tujuannya untuk mencapai rasa bahagia dan rasa damai dalam jiwa kita sendiri.

8. Tetep-Mantep-Antep

Artinya dalam melaksanakan tugas perjuangan, harus memiliki ketetapan hati.

Saat bekerja tak boleh menoleh ke kiri atau ke kanan.

Setiap jalan yang diambil harus diiringi dengan keteguhan hati dan jangan membelok jalan.

9. Ngandel-Kendel-Bandel-Kandel

Artinya kita harus percaya dan yakin atas kekuasaan Tuhan dan diri sendiri.

Selama kita percaya pada Tuhab, maka kita tidak akan merasa takut dan was-was.

10. Neng-Ning-Nung-Nang

Neng berarti tentram lahir batin, tidak ragu dan malu-malu.

Ning berarti berpikir jernih dan bisa membendakan mana benar atau salah.

Nung berarti kuat, kokoh lahir dan batin.

Nang berarti menang.

Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved