Suatu Hari di Australia Barat

Pinnacles Desert, Gurun Pasir Bak Dunia Lain di Australia Barat, Sekali Datang Ogah Pulang

Memasuki kawasan Nambung Nationl Park, tepatnya di Pinnacles Desert, kami langsung disuguhi keindahan alam yang unik bak berada di dunia lain.

Pinnacles Desert, Gurun Pasir Bak Dunia Lain di Australia Barat, Sekali Datang Ogah Pulang
Ringgo Agus Raman/Instagram @ringgoagus
Pinnacles Desert 

TRIBUNTRAVEL.COM - Atas undangan Tourism Western Australia dan Cohn & Wolfe, reporter TribunTravel.com, Apriani Alva bersama influencer Indonesia menjelajahi Australia Barat.

Perjalanan selama delapan hari pada April 2018 ini mengeksplor keindahan Perth dan Coral Coast, berikut cerita serunya.

Angin sepoi-sepoi menyambut kedatangan kami di Terminal 1 Bandara Internasional Perth, Australia Barat, Selasa (10/4/2018) sore hari.

Seorang wanita berbadan kekar dan berwajah tegas, tersenyum ramah menyambut rombongan kami.

"Welcome to the Perth," suara Gloria, driver dari Perth Luxury Tours dengan aksen Selandia Baru yang kental.

Badan yang terasa dingin tiba-tiba terhangatkan oleh candaan dari Gloria.

Hari pertama tiba di ibu kota negara bagian Australia terluas ini, kami mengistirahatkan badan di Hotel Freser Suites Perth dan makan malam di restoran Malaysia, D'Ankasa Malaysian Restaurant.

Keesokan harinya, Rabu (11/4/2018), trip seru pun dimulai.

Sebelum menyimak destinasi trip di Australia Barat, yuk lihat video karya Gemala Hanafiah, founder Wet Traveler sekaligus influencer yang selalu aktif mengabadikan momen melalui bidikan kameranya.

1. Pinnacles Desert

Destinasi pertama adalah Pinnacles Desert yang berada di kawasan Taman Nasional Nambung.

Mobil van warna hitam mengaspal di jalanan yang lenggang, tanpa macet.

Perjalanan ini ditempuh selama kurang lebih 2,5 jam dengan jarak 195 km ke arah utara Perth.

Sepanjang jalan, kami disuguhi lanskap alam bak berada di negeri Timur Tengah yang gersang.

Kabar gembiranya, trip kali ini bertepatan dengan datangnya musim gugur, sehingga udaranya sejuk dengan embusan angin yang tak terlalu kencang.

Bila ingin mengusir rasa kantuk, tak ada salahnya berhenti sejenak di kafe atau food truk untuk meneguk segelas kopi atau sekadar makan es krim sambil menghirup udara segar.

Memasuki kawasan Taman Nasional Nambung, tepatnya di Pinnacles Desert, kami langsung disuguhi keindahan alam yang unik bak berada di dunia lain.

Sejauh mata memandang terlihat bebatuan berdiri tegak yang menjulang tinggi.

Pilar-pilar batu terhampar luas di pasir kuning bagai permadani keemasan bertemu birunya langit yang menyejukkan mata.

Pilar tertinggi di gurun ini bisa mencapai 3,5 meter.

Lanskap alam menakjubkan ini terbentuk dari kerang laut selama jutaan tahun hingga menyerupai menara-menara batu kapur menjulang tinggi di atas gurun pasir kuning.

Bentuknya ada yang bergerigi, runcing, dan tak beraturan menyerupai batu nisan raksasa.

Puas mengambil gambar, video dan berjalan-jalan di antara pasir kuning dan bebatuan, perut sudah terasa keroncongan.

Kali ini kami makan siang di Indian Ocean Rock Lobster Factory.

2. Santap Siang di Indian Ocean Rock Lobster Factory

Berjarak 17 Km dari Pinnacles Desert dengan waktu tempuh sekitar dua jam, surga dunia bagi pecinta makanan laut ini menyambut kami dengan ramah.

Dari nama tempatnya sudah jelas, kali ini kami akan menyantap udang raksasa alias lobster.

Fransiska, guide dari Cohn & Wolfe rupanya sangat paham, jika kami sangat antusias dengan semua menu yang disajikan.

Ia sengaja menambah dua porsi ekstra lobster ukuran medium dan semua ludes dilahap.

Rasa lobster di sini lezat dan segar karena diambil langsung dari laut.

Sambil menunggu pesanan datang, kami diajak menyusuri lokasi penangkaran lobster yang berada di samping tempat makan.

Bagi yang tak menguasai bahasa Inggris dengan lancar, jangan khawatir, pemandu telah menyiapkan alat menyerupai telepon genggam berisi cerita singkat berdirinya Indian Ocean Rock Lobster Factory, proses penangkapan, hingga ekspor lobster.

Ingin tahu lebih banyak mengenai Indian Ocean Rock Lobster Factory, harga, hingga keseruannya?

Tunggu pembahasan selanjutnya dalam topik artikel Suatu Hari di Australia Barat.

Setelah perut terpuaskan, mobil van hitam kembali mengaspal menuju Geraldton yang menempuh perjalanan selama 2,5 jam, berjarak 223 km.

3. HMAS Sydney II Memorial

Sebelum menuju ke penginapan, kami menikmati kehangatan Matahari ditemani angin sejuk di HMAS Sydney II Memorial.

Ratusan nama tertulis di batu nisan raksasa berbentuk setengah lingkaran atau melengkung

Bangunan megah ini selesai dirancang pada 2001 yang didirikan untuk menghormati para tentara Angkatan Laut, kru, serta keluarga yang hilang dalam HMAS Sydney II, tragedi tunggal terbesar dalam sejarah Angkatan Laut Australia.

Sebanyak 645 tentara Australia meninggal dalam tragedi ini saat Perang Dunia II melawan Jerman.

Selain kubah berbentuk burung yang menakjubkan dan baling-baling kapal di bawahnya, ada sebuah patung wanita yang melihat ke arah laut.

Patung tersebut dikenal dengan sebutan "The Witing Woman" dan mengambarkan wanita yang melihat para tentara berguguran di laut lepas.

Patung The Waiting Woman terlihat memegang topi, menghadap laut, dan rok yang dikenakannya tertiup angin kencang.

Melalui pandangan mata patung wanita perunggu ini, seperti ada rasa sedih yang terlihat.

Sosok The Waiting Woman bersedih karena ayah, suami, dan saudara laki-lakinya tak kunjung pulang.

Perjalanan hari kedua ini ditutup dengan menikmati makanan lezat di The Jade House Chinese Restaurant yang telah beroperasi lebih dari 20 tahun di Geraldton.

Kami pun merebahkan badan di The Gerald Apartement Hotel yang berlokasi di 25 Cathendal Avenue, Geraldton, Australia Barat.

Australia Barat adalah negara bagian Australia terbesar yang memiliki empat musim dengan jarak terdekat dari Indonesia.

Hanya perlu waktu 4,5 jam untuk sampai di Perth, Ibu Kota Australia Barat.

Cerita seru mengenai trip Perth and Coral Coast Media & Influencer Family lainnya bisa dibaca dalam topik Suatu Hari di Australia Barat.

Ikuti kami di
Penulis: Apriani Alva
Editor: Apriani Alva
Sumber: Tribun Travel
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved