Breaking News:

Kopi Merapi, Kedai di Sleman yang Sajikan Kopi Hasil Perkebunan di Tanah Vulkanik Lereng Merapi

Pasca erupsi 2010, Kabupaten Sleman yang terletak di sisi selatan Gunung Merapi, DI Yogyakarta, menjadi destinasi wisata populer oleh Volcano Tour.

Editor: Sinta Agustina
KOMPAS.com / Wijaya Kusuma
Warung Kopi Merapi di Dusun Petung. 

"Teman saya waktu itu meminjami uang kalau tidak salah, sekitar Rp 3 juta," urainya.

Dengan modal yang cukup mepet itu, Sumijo membuka usaha warung kopi Merapi.

Guna menghemat biaya, Sumijo memanfaatkan metarial rumahnya yang masih bisa digunakan untuk membangun warung di Dusun Petung.

"Saya harus menghemat pengeluaran. Mengumpulkan kayu-kayu bekas rumah yang hancur karena erupsi. Lalu bekas shelter saya bawa untuk membangun warung," ucapnya.

Pada 17 November 2012, Sumijo dan istrinya yang bernama Sukirah secara resmi membuka warung Kopi Merapi di Dusun Petung.

Sumijo menjelaskan konsep yang diusung di warung Kopi Merapi miliknya adalah tradisional.

Artinya, cara pengolahan biji kopi semua dengan cara tradisional.

"Disangrai menggunakan wajan dari tanah liat, bahan bakarnya kayu. Jadi benar-benar dipertahankan tradisionalnya," tuturnya.

Harga segelas kopi Merapi jenis arabika dihargai Rp 8.000, sedangkan harga segelas kopi Merapi robusta Rp 5.000.

Seiring berjalannya waktu, pengunjung warung kopi miliknya cukup banyak.

Bahkan pada hari biasa bisa mencapai sekitar 100 orang. Pengunjung biasanya datang sekaligus untuk menikmati sunrise.

"Kalau hari libur atau weekend bisa mencapai 200 orang sampai 300 orang. Kami memang tidak buka 24 jam," tegasnya.

Menurut Sumijo, kopi Merapi yang ditanam di tanah vulkanik berbeda dengan kopi lainnya. Rasa kopi Merapi cenderung lebih halus.

"Kopi Merapi itu menurut saya lebih halus. Kalau orang-orang menyebutnya kopi cewek," ujarnya.

Diakui Sumijo, erupsi Gunung Merapi pada 2010 lalu memiliki nilai positif di mana perekonomian warga semakin meningkat dengan hadirnya destinasi wisata.

Selain itu, imbasnya adalah Kopi Merapi semakin terkenal dan digemari.

"Alhamdulilah, saya sudah bisa mengembalikan uang modal pinjaman dari teman itu. Rencananya, ke depan saya akan mengembangkan lagi warung Kopi Merapi," pungkasnya. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Kedai Kopi di Tengah Lanskap Erupsi Gunung Merapi.

Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved