Breaking News:

Ke Bali, Jangan Cuma ke Pantai! Sambangi Pula 3 Desa Adat yang Simpan Keunikan

Ketika berwisata ke Bali, traveler pun bisa mengunjungi beberapa desa adat yang ada di sana. Simak keunikan masing-masing desa adat ini.

Editor: Sri Juliati
hellobalitravel.com
Desa Penglipuran di Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Bali masih menjadi destinasi andalan dan unggulan Indonesia.

Selain dikenal dengan panorama keindahan alamnya, Pulau Dewata juga tenar dengan kekentalan adat istiadat dan budayanya.

Ketika berwisata ke Bali, traveler pun bisa mengunjungi beberapa desa adat yang ada di sana.

Tiga desa adat di Bali yang banyak dikenal wisatawan yakni Desa Tenganan, Desa Trunyan, dan Desa Panglipuran.

Desa-desa tersebut penduduknya merupakan kaum Bali Mula atau Bali Asli, terkadang para penduduk Bali menyebutnya Bali Aga.

Kaum Bali Mula adalah penduduk yang pertama kali mendiami Pulau Bali sebelum penduduk Jawa bermigrasi ke Pulau Bali.

Sementara itu ada perbedaan yang kentara antara Bali Mula dengan orang Bali pendatang di masa Majapahit atau Bali Jawa, yakni pada upacara kematian.

Bali Mula melaksanakan upacara kematian dengan cara mengubur jenazah, sementara Bali Jawa upacara kematiannya dengan cara jenazahnya dibakar.

Nah, untuk mengetahui lebih lanjut, berikut uraian soal tiga desa adat yang ada di Bali.

1. Desa Penglipuran

Desa Wisata Penglipuran
Desa Wisata Penglipuran (Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin)

Desa yang berisi masyarakat Bali Mula berada di dataran tinggi di sekitar kaki Gunung Batur, tepatnya di Kelurahan Kubu, Kabupaten Bangli, yang berjarak 45 kilometer dari Denpasar.

Suasana di desa tersebut amat tenang dan asri.

Selain itu juga udara yang sejuk karena berada di dataran tinggi.

Desa Penglipuran punya keunikan tersendiri.

Yakni rumah-rumah penduduk di sana nampak seragam di bagian depan rumah.

Sehingga wisatawan pun dapat melihat keindahan desa ini sepanjang lorong desa begitu rapi juga cantik.

Traveler bisa berjalan melalui lorong ini yang menanjak ke atas.

Lalu juga membagi desa ke tiga bagian sesuai konsep Tri Hita Karana (hubungan manusia dengan sesama, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan).

Hal lain yang tak kalah uniknya adalah tidak memperbolehkan kendaraan mobil atau motor masuk ke dalam desa.

Sehingga kendaraan pun harus diparkir di lahan parkir.

Sementara untuk aturan adat, masyarakat di sana melarang laki-laki memiliki istri lebih dari satu.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved