Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Eri Gunarta
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Padi di persawahan Banjar Gagah, Desa/Kecamatan Tegalalang, Gianyar, Bali sudah terlihat mengunung, Rabu (24/5/2017).
Para petani pun sudah melakukan aktivitas memanen.
Hamparan sawah yang luas dengan teraseringnya, serta berlatar belakang bebukitan Kintamani, Bangli memiliki daya tarik tersendiri.
Daerah itu kini banyak dikunjungi warga, khususnya muda mudi.
Objek wisata Gembok Cinta yang dibuka Januari 2017, kini menjadi objek wisata favorit masyarakat.
Menariknya, pengelola objek wisata ini tidak perlu menghabiskan kocek untuk berpromosi.
Mereka hanya memanfaatkan pesatnya perkembangan media sosial.
Seorang warga Klungkung, Ni Kadek Meli (24), mengatakan, dirinya mengetahui objek ini melalui Instagram.
“Saya lihat di Instagram, pemandangannya bagus, langsung dah ke sini,” ucapnya.
Meli mengaku tidak menyesal datang ke sini meski pun jaraknya mencapai 34,3 kilometer dari rumahnya di Klungkung.
Sebab di sini ia dapat menikmati panorama bebukitan, sembari berselfie di tengah hamparan sawah.
“Jauh tidak masalah, yang peting dapat refreshing, biar otak tak mumet. Soalnya pemandangannya menarik,” tegasnya.
Staf Pengelola Objek Wisata Gembok Cinta, Wayan Astina mengungkapkan, sejak dibuka Januari 2017, jumlah pengunjung yang datang relatif banyak.
Di hari biasa, jumlahnya mencapai 50 orang per hari.
Sementara saat hari libur, naik mencapai dua kali lipat.
Astina pun mengaku bersyukur atas pesatnya penggunaan media sosial di Bali, karena ia tidak perlu menghabiskan kocek untuk promosi.
“Begitu dibuka langsung banyak yang datang. Soalnya, pengunjung berfoto, lalu fotonya dishare di media sosial, secara tidak langsung telah mempromosikan objek ini,” paparnya.
Ada pun spot wisata di tempat ini, tidak terlepas dari tema cinta.
Hal ini, kata Astina, Bali sudah memiliki beragam objek wisata.
Sementara yang bertemakan cinta sangat minim.
Lantaran mengambil tema cinta, sebagian besar pengunjungnya merupakan remaja.
“Sebagian besar yang datang anak remaja. Bisanya selain untuk berfoto, mereka juga mencari jodoh di sini. Astungkara, beberapa anak muda yang awalnya jomblo, telah menemukan pasangannya di sini,” ujar Astina lalu tersenyum.
Menikmati objek wisata di sini tidaklah mahal.
Pengelola hanya mengenakan tarif Rp 10 ribu untuk orang dewasa.
Sementara anak-anak Rp 5 ribu.
Hasil retribusi tersebut tidak untuk dikonsumsi pengelola, tetapi juga untuk pengembangan infrastruktur kawasan ini.