Breaking News:

Miris, Bantar Gebang Disorot Media Asing! Deretan Foto Ini Gambarkan Kehidupan 3000 Keluarga di Sana

Tak hanya sebagai tempat pembuangan akhir sampah, namun Bantar Gebang juga menjadi 'rumah' bagi sekitar 3000 keluarga. Deretan foto ini buktinya.

dailymail.co.uk/Alexandre Sattler
Bantar Gebang 

Laporan Wartawan TribunTravel.com, Rizkianingtyas Tiarasari

TRIBUNTRAVEL.COM - Bantar Gebang merupakan daerah tempat pembuangan akhir terbesar di Asia Tenggara yang terletak 19 kilometer dari Jakarta.

Tak hanya sebagai tempat pembuangan akhir sampah, namun Bantar Gebang juga menjadi 'rumah' bagi sekitar 3000 keluarga.

Yang lebih mengerikannya lagi, beberapa anak ada yang lahir di sini.

Kali ini, Bantar Gebang kembali menjadi sorotan internasional.

Dilansir dari laman dailymail.co.uk, seorang fotografer dari Colmar, Prancis, Alexandre Sattler mendokumentasikan kehidupan mereka yang tinggal di sini.

Alexandre mengunjungi tempat yang setiap harinya dibanjiri sekitar lebih dari 9000 ton sampah ini.

Ia syok terhadap permasalahan sampah di Indonesia.

Foto-foto kehidupan di sini mungkin bisa membuat kita yang melihatnya miris.

(dailymail.co.uk)
(dailymail.co.uk)
(dailymail.co.uk)
(dailymail.co.uk)

Alexandre menemukan, keluarga yang tinggal di sana mengunakan gundukan sampah sebagai sumber penghidupan mereka, mengais-ais sampah untuk menemukan benda yang bisa dijual kembali.

2 dari 3 halaman

Ia mengatakan pada MailOnlineTravel, "Yang paling mengejutkan adalah apa yang bagi sebagian besar orang adalah sampah, ternyata menjadi sumber daya bagi sebagian yang lain."

"Tingkat ketidaksetaraannya sangat mengejutkan, bahkan buah dan sayuran yang sudah dibuang malah menjadi makanan bagi mereka."

(dailymail.co.uk)

"Kondisi di sana sangat mengerikan, bau menyengat, bakteri... bahkan keluarga dan anak-anak tinggal di semacam penampungan tanpa akses ke perawatan medis dan air bersih."

(dailymail.co.uk)
(dailymail.co.uk)

"Bahkan anak-anak bermain di antara gunungan sampah dengan kaki telanjang. Beberapa di antaranya memiliki luka di kaki karena terkena benda tajam."

Meskipun begitu, Alexandre mendapati, anak-anak tetap terlihat ceria dalam keadaan seperti di tempat ini.

Menurutnya hal ini mungkin terjadi karena anak-anak tidak memiliki referensi lain, kehidupan mereka seharusnya bisa lebih baik dari ini.

(dailymail.co.uk)

Tidak hanya itu, meskipun beberapa pemulung di sana memiliki sepatu, sebagian besar mengais sampah juga dengan telanjang kaki.

(dailymail.co.uk)

Alexandre juga berkata, "Orang-orang dewasa di sana sepertinya lebih pasrah dan menunjukkan sedikit emosi."

"Mereka tampaknya menyesuaikan diri dengan situasi mereka tapi tanpa benar-benar menerimanya."

"Saya tersentuh oleh keramahan dan sikap ramah mereka."

3 dari 3 halaman

Seorang mantan penduduk TPA, Resa Boenard bilang, melakukan yang terbaik untuk memperbaiki kondisi di sana.

Dia adalah satu di antara warga yang beruntung karena dapat mengenyam pendidikan di sekolah menengah di luar tempat pembuangan sampah.

Tapi dia kembali untuk mengajar masyarakat Bantar Gebang bagaimana cara mencari jalan keluar dari kemiskinan.

Bersama dengan seorang teman dari Inggris John Devlin, dia mendirikan sebuah organisasi bernama BGBj, yang merupakan singkatan dari 'Biji Bantar Gebang."

Ia telah membuka asrama dan pusat komunitas di tempat pembuangan akhir, agar upaya pendidikan difokuskan.

Renaa percaya, anak-anak, atau 'benih', di sana dapat dipelihara dan diajarkan untuk berkembang di dunia luar.

Sementara Alexandre juga menambahkan, setiap orang bisa membantu.

Dia berkata, "Masalahnya bersifat global, dan sampah ada dimana-mana."

"Satu solusinya adalah memikirkan kembali gaya hidup dan konsumsi, untuk menemukan cara untuk mengurangi limbah dengan menghasilkan lebih sedikit kekayaan."

"Untuk membantu keluarga yang tinggal di Bantar Gebang, hubungi asosiasi lokal yang membantu keluarga secara langsung dengan memperbaiki kondisi kehidupan mereka (air, kebersihan, makanan), dan dengan membiarkan anak-anak pergi ke sekolah."

Selanjutnya
Tags:
Bantar GebangAsia TenggaraJakarta Sate Taichan
BeritaTerkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved