Laporan Wartawan TribunTravel.com, Novita Shinta
TRIBUNTRAVEL.COM - Jauh tersembunyi di dalam hutan Himalaya, Nepal, hiduplah suku yang jauh dari peradaban modern bernama suku Raute.
Suku ini tidak mempunyai tempat tinggal secara permanen dan melakukan pola hidup berpindah (nonmaden).
Mereka akan berpindah setiap kali ada anggota suku yang meninggal, dengan tujuan untuk menghindari roh jahat.
Dilansir TribunTravel dari laman dailymail, sebelum mereka meninggalkan pemukiman, mereka akan menguburkan anggota suku yang meninggal dalam posisi tegak, dan menusuk tengkorak mereka , agar roh bisa dilepaskan ke surga.
Suku ini bertahan hidup dengan cara berburu, salah satu hewan buruan mereka adalah monyet.
Tentu saja ini bertentangan dengan ajaran Hindu yang banyak dianut masyarakat Nepal, dimana monyet dianggap reinkarnasi dari Dewa Hanuman.
Dibantu oleh wartawan lokal, seorang fotografer asal Denmark, bernama Jan Moller Hansen, melakukan perjalanan ke ibukuta Nepal, Kathmandu, dan menuju ke hutan terpencil di Distrik Accham untuk mendokumentasikan suku terisolasi ini.

Hansen menceritakan bahwa kelompok ini tidak suka menimbun kekayaan, mereka hidup sederhana dengan membawa barang yang digunakan untuk berpindah ke pemukiman selanjutnya saja.
Mereka berpindah hingga ketinggian 3.000 meter, dan memilih titik-titik tempat untuk menyesuaikan musim.
Sebenarnya pemerintah lokal sudah mengupayakan untuk menyediakan pemukiman bagi suku ini secara permanen, namun masih banyak dari suku ini yang menolaknya.
Ketika Hansen mengunjungi kelompok ini, hanya tinggal 156 orang, sedangkan banyak anggota suku Raute lain yang sudah dipindahkan oleh Pemerintah Nepal.
Nah, maka dari itu, kini suku Raute sangat menutup akses dari orang luar, butuh negosiasi yang panjang untuk bisa datang dan mengenal suku ini guys.
Hansen mengatakan bahwa ini adalah ekspedisi termahalnya.
Untuk bisa masuk dan mengenal suku ini lebih dekat, ia harus memberikan enam bungkus rokok, dua paket besar tembakau, sekardus biskuit, ayam jantan dan uang untuk pembelian lima ekor kambing.
Suku Raute mempunyai budaya dan kepercayaan sendiri dan terus menjaga identitasnya itu dengan baik, tanpa terpengaruh oleh kepercayaan Hindu di Nepal.
Walaupun begitu, mereka tetap menghormati kepercayaan lain.
Mereka percaya pada dewa matahari yang dikenal sebagai Berh yang abadi, dan menganggap suku Raute sebagai anak-anak dari dewa matahari.
Suku Raute melihat bintang-bintang sebagai tempat menyembah Tuhan.
Nah, berikut gambar-gambar menakjubkan yang berhasil diabadikan oleh Hansen.

Orang-orang Raute mengenakan pakaian tradisional mereka di sekitar perkemahan.

Seorang gadis muda menggendong anak di punggungnya.

Anak-anak menjaga api agar tetap hangat di dalam sebuah tenda.

Para wanita menggunakan aksesoris manik-manik di leher mereka.

Kurang lebih seperti inilah keadaan di dalam tenda pemukiman.

Para wanita dari suku ini berkumpul dan bebincang bersama-sama.

Para laki-laki mengenakan pakaian tradisional Raute di mana mereka akan berburu dan mengumpulkan berbagai monyet untuk makan.

Seorang ibu duduk di dekat bekas api unggun sambil menyusui anaknya.