Berita Menarik

Astaga! Demi Terlihat Cantik, Gigi Wanita Suku Mentawai Rela Dikikir

Perempuan di berbagai suku telah banyak melakukan tradisi ekstrem selama berabad-abad untuk mempertahankan budaya mereka.

Astaga! Demi Terlihat Cantik, Gigi Wanita Suku Mentawai Rela Dikikir
imgur.com
Suku Mentawai 

Laporan Wartawan TribunTravel.com, Novita Shinta

TRIBUNTRAVEL.COM - Indonesia memang kaya dengan keberagaman suku dan budayanya.

Perempuan di berbagai suku telah banyak melakukan tradisi ekstrem selama berabad-abad untuk mempertahankan budaya mereka.

Satu di antaranya adalah suku Kayang di Burma.

Suku Kayang mempertahankan kebudayaan mereka dengan kalung gelang yang menyakitkan yang dipasang pada leher mereka, satu suku di Indonesia juga melakukan hal sama.

Ialah suku Mentawai di Sumatera Barat, dengan tradisi unik yang bisa dibilang ekstrim.

Anyway, ketika kamu pergi ke dokter gigi untuk membersihkan karang, apa yang kamu rasakan guys?

Bukankah ketika karang di sela gigi dibersihkan akan terasa ngilu?

Nah, hampir serupa dengan yang dilakukan oleh wanita di suku Mentawai, dimana mereka mempunyai tradisi kerik gigi.

Dilansir TribunTravel.com dari berbagai sumber, tradisi ini sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang secara turun temurun sebagai simbol kedewasaan loh.

Konon, gigi yang dikerik melambangkan kecantikan dan kepercayaan diri wanita Mentawai yang akan beranjak dewasa.

Gigi para wanita ini dikikir runcing dan dianggap melambangkan kebahagiaan serta keseimbangan antara tubuh dan kedamaian jiwa.

Dilansir TribunTravel.com dari Hufftington, jangan pikir menggunkan alat-alat modern, proses pengikiran ini masih manual menggunakan pahatan kayu dan batu.

Tentu akan sangat menyakitkan karena tidak menggunakan obat bius.

Untuk mengurangi rasa sakit, biasanya para wanita ini mengigit pisang hijau sebelum memamerkan senyum barunya dengan gigi tajam.

Satu wanita yang pernah melakukan ritual ini adalah Pilongi dan merupakan istri kepala desa Mentawaian.

Saat remaja Pilongi sengaja menghindarinya, namun mengingat status suaminya, ia merasa harus melakukan ritual menyakitkan ini.

"Aku tidak khawatir tentang rasa sakit, jika aku berpikir tentang itu, aku tidak akan kecantikan yang sebenarnya, " ungkapnya.

Menurutnya, dengan giginya sejarang yang lebih tajam, ia merasa bangga dan lebih cantik untuk suaminya.

Selain itu, ritual ini juga bisa menjaga keharmonisan keluarganya, ia berharap setelah melakukan ritual ini akan menjadi lebih cantik, dan suaminya tidak akan meninggalkannya.

Ikuti kami di
Penulis: Novita Shinta Dewanti
Editor: Tertia Lusiana Dewi
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved