Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Melvinas Priananda
TRIBUNTRAVEL, KUANSING - Festival Pacu Jalur 2016 yang dibuka Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) pagi ini, Kamis (25/8/2016), sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda.
Awalnya, pada tahun 1903, pacu jalur dibuat untuk merayakan hari jadi Ratu Wihemnina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus.
Pada zaman penjajahan Belanda, pacu jalur diadakan untuk memeriahkan perayaan adat, kenduri rakyat dan untuk memperingati hari kelahiran ratu Belanda Wihelmina.
Kegiatan ini dilombakan selama 2-3 hari, tergantung pada jumlah jalur yang ikut.
Setelah merdeka, pacu jalur dilaksanakan pada hari raya Islam seperti Idul Fitri.
Sekarang, pacu jalur diselenggarakan untuk merayakan kemerdekaan Republik Indonesia.
Pacu Jalur merupakan sebuah perlombaan mendayung di sungai menggunakan sebuah perahu panjang yang terbuat dari kayu pohon.
Panjang perahu ini bisa mencapai 25-40 meter dan lebar bagian tengah kir-kira 1,3 m s/d 1,5 m.
Dalam bahasa penduduk setempat, kata Jalur berarti Perahu.
Dilansir dari Wikipedia, sejarah Pacu Jalur berawal pada abad ke-17.
Jalur atau perahu merupakan alat transportasi utama warga desa di Rantau Kuantan, yakni daerah di sepanjang Sungai Kuantan yang terletak antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian Hulu hingga Kecamatan Cerenti, Kecamatan Cerenti di hilir.
Saat itu memang belum berkembang transportasi darat.
Akibatnya jalur itu benar-benar digunakan sebagai alat angkut penting bagi warga desa, terutama digunakan sebagai alat angkut hasil bumi, antara lain pisang dan tebu, serta berfungsi untuk mengangkut sekitar 40-60 orang.
Kemudian muncul jalur-jalur yang diberi ukiran indah, seperti ukiran kepala ular, buaya, atau harimau, baik di bagian lambung maupun selembayung-nya, ditambah lagi dengan perlengkapan payung, tali-temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri).
Kegiatan Pacu Jalur merupakan pesta rakyat yang terbilang sangat meriah.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Pacu Jalur merupakan puncak dari seluruh kegiatan, segala upaya, dan segala keringat yang mereka keluarkan untuk mencari penghidupan selama setahun.
Masyarakat Kuantan Singingi dan sekitamya tumpah ruah menyaksikan acara yang ditunggu-tunggu ini.
Selain sebagai acara olahraga yang banyak menyedot perhatian masyarakat, festival Pacu Jalur juga mempunyai daya tarik magis tersendiri.
Festival Pacu Jalur dalam wujudnya memang merupakan hasil budaya dan karya seni khas yang merupakan perpaduan antara unsur olahraga, seni, dan olah batin.
Namun, masyarakat sekitar sangat percaya bahwa yang banyak menentukan kemenangan dalam perlombaan ini adalah olah batin dari pawang perahu atau dukun perahu.
Keyakinan magis ini dapat dilihat dari keseluruhan acara, mulai dari persiapan pemilihan kayu, pembuatan perahu, penarikan perahu, hingga acara perlombaan dimulai, yang selalu diiringi oleh ritual-ritual magis.
Pacu Jalur dengan demikian merupakan adu tunjuk kekuatan spiritual antar dukun jalur.