Breaking News:

Sejarah Nasi Tumpeng - Sering Makan Ini Saat Syukuran? Tengok Dulu Filosofinya

Tahukah kamu, guys, nasi tumpeng tak sekadar makanan dengan tampilan kerucut serta aneka sayur dan lauk-pauk.

Penulis: Sri Juliati
Editor: Sri Juliati
Kompas.com
Corporate Chef Parador Hotels & Resorts Gatot Susanto bersama kru dapurnya menyiapkan nasi tumpeng dalam acara HUT Ke-7 Kompas.com di kantor redaksi Kompas.com, Palmerah, Jumat (29/5/2015). 

TRIBUNTRAVEL.COM - Nasi tumpeng selalu hadir dalam perayaan syukuran dan selamatan.

Saking tak pernah absennya, nasi tumpeng dibuatkan waktu tersendiri saat acara, yaitu pemotongan nasi tumpeng.

Bagi orang Indonesia, utamanya mereka yang tinggal di Pulau Jawa, Madura, dan Bali familier dengan menu ini.

Tahukah kamu, guys, nasi tumpeng tak sekadar makanan dengan tampilan kerucut serta aneka sayur dan lauk-pauk.

Nasi tumpeng ternyata memiliki makna filosofis yang begitu indah.

Dari namanya, tumpeng berasal dari sebuah singkatan yang memiliki arti tersendiri.

"Dalam masyarakat Jawa, ditemukan kata 'tumpeng' merupakan akronim dari kalimat 'yen meTu kudu meMPENG'," kata Dr Ari Presetiyo SS MSi, dosen Sastra Jawa Universitas Indonesia seperti dilansir TribunTravel.com dari Kompas.com.

Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kalimat 'yen metu kudu mempeng' berarti 'ketika keluar harus sungguh-sungguh semangat.'

"Mungkin maksudnya, ketika terlahir manusia harus menjalani kehidupan di jalan Tuhan dengan semangat, yakin, fokus, dan tidak mudah putus asa. Juga dalam proses itu semua, percayalah Tuhan ada bersama kita," kata Dr Ari.

Tak hanya itu, nasi tumpeng merupakan bentuk representasi hubungan antara Tuhan dengan manusia dan manusia dengan sesamanya.

Dalam Kitab Tantupanggelaran (kitab dari zaman Majapahit) diceritakan, saat Pulau Jawa berguncang, Batara Guru dalam konsep Hindu memerintahkan membawa puncak Mahameru India untuk menstabilkan Pulau Jawa dan jadilah Gunung Semeru di Jawa Timur.

"Puncak tertinggi itulah yang dipercaya merupakan letak dari para dewa. Manusia memahami konsep Ketuhanan dengan sesuatu yang besar dan tinggi, dan berada di puncak," ujar Dr Ari Prasetiyo SS MSi.

Tak heran bila nasi tumpeng berbentuk kerucut dan menjulang tinggi (vertikal), meniru bentuk puncak Gunung Semeru, yaitu Mahameru sebagai tempat bersemayam dewa.


THINKSTOCK

Selain bentuk, isian nasi tumpeng juga memiliki arti.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved