Sejumlah Tamu Hotel Batal Menginap Pasca Ledakan Bom di Surabaya, Okupansi Hanya 40 Persen

Selama dua hari berturut-turut, terjadi peristiwa ledakan bom di Kota Surabaya. Hal tersebut sedikit banyak memengaruhi okupansi hotel di Surabaya.

Sejumlah Tamu Hotel Batal Menginap Pasca Ledakan Bom di Surabaya, Okupansi Hanya 40 Persen
pixabay.com
Ilustrasi. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Selama dua hari berturut-turut, terjadi peristiwa ledakan bom di Kota Surabaya.

Hal tersebut sedikit banyak memengaruhi okupansi hotel di Kota Pahlawan tersebut.

“Sebenarnya kalau menjelang puasa, memang hotel di Surabaya ini tiap tahunnya sepi. Apalagi sekarang ketambahan kayak gini (pengeboman), ya tambah sepi,” ujar General Manager Hotel Santika Gubeng, Agus Triyono kepada KompasTravel saat dihubungi, Senin (14/5/2018).

Menurut Agus, okupansi hotel di Kota Surabaya terutama di Hotel Santika saat bulan puasa memang sepi.

Hanya sekitar 40 hingga 50 persen.

Meski demikian, menurut Agus, hotel masih mengalami keterisian atau tidak kosong sepenuhnya pasca ledakan bom.

Hanya saja beberapa event yang seharusnya diadakan di hotel tersebut batal dilaksanakan.

“Beberapa ada yang cancel (batal menginap), hari ini (Senin) harusnya ada empat event, tapi dua event batal. Harusnya juga ada kumpul ibu-ibu arisan, tapi batal juga,” kata Agus.

Hal serupa dikatakan oleh Corporate Public Relations TAUZIA Hotels, Yani Sinulingga.

Ia mengatakan beberapa pengunjung memang melakukan pembatalan.

“Hari ini (Senin) di beberapa hotel memang ada (yang cancel), namun jumlahnya tidak besar masih di bawah 10 persen,” ujar Yani.

Yani menjelaskan untuk Pop Hotels tidak ada yang melakukan pembatalan.

Sementara itu, ada pembatalan oleh beberapa pengunjung Yello Hotel dan Harris Hotel.

Meski demikan, pada saat ledakan bom pertama di hari Minggu, Yani mengatakan di Harris Hotel Gubeng masih ada tamu yang mengadakan acara pernikahan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Pasca Ledakan Bom, Beberapa Tamu Batal Menginap di Hotel Surabaya.

Ikuti kami di
Editor: Sinta Agustina
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About us
Help