Dear Pendaki, Kenali Gejala Hipotermia Saat Mendaki Gunung! Jangan Sampai Salah Penanganan

Banyaknya kejadian hipotermia seolah tidak dijadikan pelajaran bagi para pendaki gunung. Para pendaki kerap salah mengidentifikasi gejala hipotermia.

Dear Pendaki, Kenali Gejala Hipotermia Saat Mendaki Gunung! Jangan Sampai Salah Penanganan
TRIBUNTRAVEL.COM/SRI JULIATI
Pendaki melakukan pendakian menuju puncak Gunung Merbabu, beberapa waktu lalu. 

Meskipun si pendaki masih bisa berjalan dan berbicara normal.

Stadium Berat

Beranjak lagi ke stadium terakhir, pendaki akan merinding makin hebat, datang bergelombang, dan tiba-tiba berhenti.

Makin lama ,fase berhenti merinding semakin panjang.

Hingga akhirnya benar-benar berhenti.

“Hal ini disebabkan glikogen yang dibakar di dalam otot sudah tidak mencukupi untuk melawan suhu tubuh yang terus menurun."

"Akibatnya, tubuh berhenti merinding untuk menjaga glukosa (bahan energi),” begitu kutipan dari buku Panduan Mapala UI 2012.

Pendaki kemudian akan merasa sangat lemas, sampai jatuh dan tak bisa berjalan atau melangkah, kemudian meringkuk untuk menjaga panas tubuhnya.

Otot pendaki mulai kaku, ini terjadi akibat aliran darah ke permukaan berkurang dan disebabkan oleh pembentukan asam laktat dan karbondioksida di dalam otot.

Ciri lainnya yang terlihat ialah kulit mulai pucat, bola mata tampak membesar, dan denyut nadi terasa menurun.

Pendakian Gunung Merbabu via Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Pendakian Gunung Merbabu via Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. (ISTIMEWA/BRIAN PERSIANGGONO)
Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: Sri Juliati
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About us
Help