Home »

News

Jauh Dibandingkan Singapura, Indonesia Tertinggal Dalam Urusan Asuransi Perjalanan, Apa Untungnya?

Indonesia baru mencakup lima persen kesadaran masyarakatnya dalam mengambil asuransi perjalanan

Jauh Dibandingkan Singapura, Indonesia Tertinggal Dalam Urusan Asuransi Perjalanan, Apa Untungnya?
KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO
Komunitas Sahabat Baduy melakukan bersih-bersih di jalur pendakian menuju Baduy Dalam via Ciboleger, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, Sabtu (1/10/2017). 

TRIBUNTRAVEL.COM - Country CEO AXA Indonesia yang juga President Director AXA General Indonesia, Paul Henri Rastoul mengatakan kesadaran turis Indonesia untuk mengasuransikan perjalanannya masih rendah.

Hal itu tersebut dikatakannya saat menjadi satu pembicara di ajang Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2018 yang diinisiasi oleh Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) beberapa waktu lalu.

"Indonesia baru mencakup lima persen kesadaran masyarakatnya dalam mengambil asuransi perjalanan. Masih di bawah Singapura 75 persen dan Malaysia 20 persen," ujar Paul Henri dalam siaran pers yang diterima KompasTravel.



Pengunjung memanfaatkan liburan mengunjungi Pantai Baron, Yogyakarta, Minggu (2/7/2017). Pantai ini selalu padat pengunjung saat libur sekolah dan lebaran.(KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI)
Pengunjung memanfaatkan liburan mengunjungi Pantai Baron, Yogyakarta, Minggu (2/7/2017). Pantai ini selalu padat pengunjung saat libur sekolah dan lebaran.(KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI) ()

Paul menyebutkan, berwisata bagi sebagian besar masyarakat Indonesia sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Bahkan, lanjutnya, tidak sedikit yang menjadikannya sebagai kebutuhan.

Data menyebutkan pada tahun 2016 jumlah masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri mencapai tujuh juta orang atau meningkat enam persen dibanding tahun 2015.

Sementara hingga pertengahan tahun 2017, jumlah masyarakat Indonesia yang bepergian di lingkup domestik telah mencapai 200 juta orang.

Sementara, target pemerintah hingga akhir tahun 2017 mencapai 265 juta orang.




Memanjat tebing Gunung Parang, Purwakarta, menggunakan teknik yang disebut via ferrata atau naik menggunakan tangga baja, Minggu (2/7/2017)(KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT)
Memanjat tebing Gunung Parang, Purwakarta, menggunakan teknik yang disebut via ferrata atau naik menggunakan tangga baja, Minggu (2/7/2017)(KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT) 

Belum lagi tingkat perjalanan umrah yang selalu meningkat tiap tahunnya.

Data dari Kementerian Agama menyebutkan, tahun 2015 jumlah jemaah umrah Indonesia mencapai 717 ribu orang dan meningkat 14 persen di tahun 2016 menjadi 818.000 ribu jemaah umrah.

"Angka tersebut tentunya menjadi peluang, hanya saja PR-nya adalah edukasi market. Selama ini masyarakat Indonesia membeli asuransi perjalanan hanya untuk melengkapi persyaratan visa," kata Paul. 




Belasan wisatawan dari blogger dan awak media, rafting di Sungai Bogowonto, Purworejo dalam famtrip DInporapar Jawa Tengah, Rabu (15/2/2017). Karakter jeram yang rapat dan sambung menyambung di sungai Bogowonto, menjadi tantangan tersendiri.(Bogowonto Indonesia Adventure)
Belasan wisatawan dari blogger dan awak media, rafting di Sungai Bogowonto, Purworejo dalam famtrip DInporapar Jawa Tengah, Rabu (15/2/2017). Karakter jeram yang rapat dan sambung menyambung di sungai Bogowonto, menjadi tantangan tersendiri.(Bogowonto Indonesia Adventure)

Paul mengatakan satu cara untuk menumbuhkan kesadaran berasuransi adalah kerja sama yang simultan antara regulator, industri, dan biro perjalanan.

Selain itu edukasi terhadap pasar, asuransi perjalanan tidak hanya meng-cover kesehatan dan kejadian personal selama perjalanan.

"Tapi juga pengalaman yang tidak menyenangkan yang mungkin didapat konsumen saat bepergian," ujarnya.

Berita ini telah dimuat di Kompas.com dengan judul Kesadaran Turis Indonesia Gunakan Asuransi Perjalanan Masih Rendah

Ikuti kami di
Editor: Tertia Lusiana Dewi
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About us
Help