Home »

News

Terumbu Karang Raja Ampat Rusak Akibat Kapal Pesiar Inggris, Menpar: Kerugiannya Belum Dihitung

Menteri Pariwisata Arief Yahya belum menghitung kerugian karena rusaknya terumbu karang akibat kandasnya kapal pesiar Caledonian Sky.

Terumbu Karang Raja Ampat Rusak Akibat Kapal Pesiar Inggris, Menpar: Kerugiannya Belum Dihitung
Stephanie Venables/Marine Megafauna Foundation/Mongabay
Perbandingan terumbu karang yang sehat (kiri) dengan yang rusak (kanan) di perairan Raja Ampat. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan belum menghitung kerugian pariwisata karena rusaknya terumbu karang akibat kandasnya kapal pesiar Caledonian Sky di perairan Raja Ampat, Papua Barat pada 4 Maret lalu.

"Belum kita hitung (kerugiannya)," kata Arief singkat saat dikonfirmasi kerugian yang dialami dunia pariwisata Indonesia seusai acara peluncuran Semarang Great Sale 2017 di Kementerian Pariwisata, Selasa (14/3/2017) malam.

Ia mengatakan akan melakukan penilaian kerugian dalam jangka pendek.

Menurutnya, saat ini sudah ada tim penilaian yang dipimpin oleh Deputi Koordinasi Bidang Kedaulatan Maritim di Kemenko Maritim, Arif Havas Oegroseno.

"Sementara berita yang sudah muncul, sekitar Rp 13-14 miliar, kita harap dari pihak Caledonian Sky bisa melakukan recovery itu," tambahnya.

Menurut Arief, dampak kerugian akibat peristiwa yang terasa saat ini adalah efek pemberitaan negatif.
Salah satu yang paling kecewa akibat peristiwa ini adalah para penyelam.

Peristiwa kapal pesiar MV Caledonian Sky berpenumpang 102 orang itu kandas di atas sekumpulan terumbu karang di Raja Ampat pada 4 Maret 2017.

Kapal hendak mengantarkan wisatawan melakukan pengamatan burung di Waigeo.

Entah apa penyebabnya, kapal itu terjebak di perairan dangkal.

Tapi, boat menarik kapal itu pada saat air belum pasang sehingga merusak terumbu karang di bawahnya.

Catatan Pusat Penelitian Sumber Daya Laut Universitas Papua, kawasan terumbu karang yang rusak itu terdapat 8 genus terumbu karang.

Di antaranya acropora, porites, montipora dan stylophora. (Kompas.com/Wahyu Adityo Prodjo)

Ikuti kami di
Editor: Sinta Agustina
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About us
Help