Jadi Kota Paling Mahal di Dunia, Inilah Harga BBM di Hongkong! Bisa Beli Paket Internet

Hongkong kembali menduduki peringkat teratas sebagai kota termahal di dunia menurut survei badan konsultan Economist Intelligence Unit, London.

Jadi Kota Paling Mahal di Dunia, Inilah Harga BBM di Hongkong! Bisa Beli Paket Internet
KOMPAS.com / Wahyu Adityo Prodjo
Moda transportasi umum di Hong Kong yakni trem dan bus berjalan berdampingan di sudut jalan area Causeway Bay, Hongkong, Rabu (15/6/2016) malam. 

TRIBUNTRAVEL.COM - Hongkong kembali menduduki peringkat teratas sebagai kota termahal di dunia menurut survei badan konsultan Economist Intelligence Unit, London.

Tahun lalu, Hongkong berada di bawah Singapura dan di atas Zurich, Swiss untuk urusan menjadi kota yang serba mahal ini.

Predikat kota termahal di dunia ini memunculkan keprihatinan terkait daya saing bisnis dan memicu saran untuk menyingkirkan "beberapa beban" di bidang bisnis.

Jon Copestake, editor di Economist Intelligence Unit mengatakan, pemerintah Hongkong seharusnya merasa prihatin dengan temuan ini.

Copestake memperingatkan, kuatnya nilai tukar dolar Hongkong membuat harga barang dan jasa terus merambat naik.

Kondisi ini akan memberi dampak negatif bagi sektor pariwisata dan industri ritel, dua pilar ekonomi bekas jajahan Inggris itu.

Dengan nilai tukar mata uang lokal yang dipatok terhadap dolar AS, membuat Hongkong selalu berada di puncak kota termahal dunia.

Survei ini membandingkan harga 150 jenis barang, termasuk roti, anggur, rokok, dan satu liter bensin, di 133 kota di dunia dengan New York sebagai patokan.

Hasilnya, survei ini menemukan harga barang-barang tersebut di Hongkong lebih mahal lima persen dibandingkan barang yang sama di New York.

Harga BBM di Hongkong juga menjadi yang termahal di dunia yaitu 1,73 dolar AS atau sekitar Rp 23 ribu per liter, tiga kali lebih mahal dibanding harga BBM di New York.

Sementara 1 kilogram roti di Hongkong dihargai 4,41 dolar atau Rp 61 ribu jauh di atas harga roti di Kopenhagen yaitu 3,55 dolar atau Rp 47 ribu per kilogram.

Survei itu juga menunjukkan, harga barang dan jasa yang mahal dan tingginya harga properti memberi kontribusi terhadap menurunnya jumlah wisatawan.

"Renminbi (yuan) sudah mengalami devaluasi sebanyak dua atau tiga kali. Itulah yang membuat kota-kota di China relatif lebih murah," kata Copestake.

Dia menambahkan, pemerintah Hongkong harus mempertimbangkan kebijakan baru misalnya mengurangi aspek-aspek yang membebani dunia usaha di kota itu. (Kompas.com/Ervan Hardoko)

Ikuti kami di
Editor: Sri Juliati
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About us
Help