Meski Telah Direnovasi, Stasiun Bersejarah Dapat Diketahui Jika Memiliki Ciri-ciri Ini

Untuk mengenali sebuah stasiun sebagai stasiun bersejarah, meski telah direnovasi, sebenarnya ada cara yang cukup mudah.

Meski Telah Direnovasi, Stasiun Bersejarah Dapat Diketahui Jika Memiliki Ciri-ciri Ini
Flickr/Cak Adi
Stasiun Jakarta Kota 

TRIBUNTRAVEL.COM - Banyak stasiun kereta di Indonesia yang telah berdiri sejak lama.

Seiring perkembangan zaman dan kebutuhan yang kian meningkat, renovasi stasiun akhirnya dilakukan.

Untuk mengenali sebuah stasiun sebagai stasiun bersejarah, meski telah direnovasi, sebenarnya ada cara yang cukup mudah.

"Bisa dibedakan dari bangunan dan jalurnya. Karena setelah merdeka sebenarnya Indonesia tak banyak membangun stasiun kereta api," kata Kartum Setiawan, pendiri Komunitas Jelajah Budaya saat ditemui di acara "Jelajah Kota Toea: Senja di Gudang Rempah Rempah", Sabtu (18/3/2017).

Ciri bangunan stasiun bersejarah menurut Kartum dapat dilihat dari arsitektur bangunan bergaya art deco atau klasik.

Lengkap dengan pilar-pilar penyangga stasiun, keramik, hiasan kaca patri, dan jendela stasiun yang berukuran besar.

Jalur stasiun di Indonesia juga menurut Kartum masih sama dengan yang dulu.

Sehingga hanya ada beberapa stasiun baru yang dibangun pasca kemerdekaan.

Contohnya stasiun Kuala Namu di Sumatera Utara dan Stasiun Citayam di Bogor (Jawa Barat).

Selain itu, stasiun dengan embel nama 'baru' seperi Depok Baru, Pasar Minggu Baru terhitung sebagai stasiun tambahan untuk memenuhi jumlah pengguna kereta yang semakin banyak.

"Dulu di Jakarta hanya ada 15 stasiun. Sekarang ada sekitar 26 atau 27 stasiun. Kalau stasiun di luar Jakarta biasanya memang sudah tua," kata Kartum.

Di Jakarta, stasiun yang berusia tua adalah Stasiun Jakarta Kota (Beos), Stasiun Tanjung Priok, Stasiun Pasar Senen, Stasiun Manggarai, dan Stasiun Jatinegara.

Stasiun BOgor juga termasuk sebagai stasiun bersejarah.

Kartum mengatakan, dulu ada 21 perusahaan stasiun kereta api yang beroperasi di Indonesia.

Kereta api juga bukanlah moda transportasi untuk manusia, melainkan alat untuk mengantar rempah dan komoditas.

"Seperti kopi, gula, dan teh dulu diantar dari daerah Solo, Salatiga, dan Semarang ke Jakarta lewat Stasiun Bogor sampai ke Stasiun Pasar Ikan. Sunda Kelapa tutup, dibuatlah Stasiun Tanjung Priok," ungkap Kartum. (Kompas.com/Silvita Agmasari)

Ikuti kami di
Editor: Sinta Agustina
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About us
Help